Podcast Hydrant

Lifestyle Media

Media Gaya Hidup Orang Indonesia | Panduan Untuk Millenials

Apa Bedanya Orang Cerdas dan Orang Bodoh?

Rating Dong

Terkadang banyak orang yang belum mengetahui bahwa orang cerdas dan orang bodoh itu berbeda. Bagi banyak orang, kedua hal tersebut dianggap sama. Lalu apa perbedaan keduanya? Berikut ini ulasannya.

Bedanya Orang Cerdan dan Bodoh
Bedanya Orang Cerdan dan Bodoh

1. Orang Bodoh Selalu Mengumbar Kemarahan Saat Berkonflik Dengan Orang Lain Agar Diperhatikan

Setiap orang marah dan mengeluarkan amarah. Rasa marah adalah ungkapan teratas dari sebuah kekecewaan, keputusasaan, atau kekesalan. Hal ini berbeda yang dirasakan antara orang bodoh dengan orang cerdas.

Orang yang cerdas biasanya bisa menahan amarah dengan komentar mengalah atau lucu. Atau bahkan tak akan meneruskan perdebatan. Bagi dia, lebih baik mengalah demi kebaikan dirinya ketimbang harus terus meladeni orang pandir.

Terkadang memang marah itu muncul juga ketika kejujurannya dihina dan dilecehkan. Tapi mereka akan berhenti ketika mereka merasa bahwa lawan debatnya memang golongan orang pandir.

Orang bodoh akan bersikap berlebihan pada sebuah konflik atau perdebatan. Mereka akan terus mendominasi sebuah perdebatan seolah-olah mereka paling pintar.

Jika memang perlu mereka akan mengulang-ulang sebuah postingan komentarnya atau terkadang harus memakai capslock. Ketika mereka memakai capslock, pada dasarnya mereka ingin agar semua orang memperhatikannya, padahal justru disanalah kelemahan dia. Mereka merasa tak punya jalan lain agar orang mau memperhatikan mereka sehingga mereka perlu berbuat sesuatu agar mata orang tertuju padanya. Ini ibarat wanita jelek yang banyak tingkah agar pria tertarik padanya.

Bagi orang bodoh, amarah adalah segalanya. Bagi dia, dengan amarah yang dipertontonkan, mereka merasa menang dalam sebuah perdebatan atau masalah.

2. Orang Bodoh Sudah Pasti Selalu Merasa Paling Benar Dibanding yang Lain

Dalam pebuah perdebatan, orang yang cerdas bisa memahami alur argumen lawan debatnya. Mereka juga bisa berempati terhadap komentar lawan debatnya. Mereka akan selalu menghargai pendapat lawan debatnya meskipun dipikirannya hal tersebut kurang dapat diterimanya.

Pendapat lawan debatnya bisa mereka sinkronkan dengan pendapatnya untuk mencari formula agar bisa diterima oleh kedua belah pihak.

Selain hal di atas, juga harus berhati-hati membaca setiap kalimat lawan debatnya, tak akan melewatkan setiap kata lawan debatnya, sebab itulah argumen yang harus dibantahnya agar tak keluar dari jalur perdebatan.

Bagi orang bodoh, adu argumentasi akan terus dilakukan meskipun sebenarnya lawan debatnya sudah malas untuk melanjutkan. Malas disini bukan karena kalah debat, tapi lebih kepada kelelahan menanggapi karena tak sesuai lagi dengan alur debat atau jawaban si orang bodoh ini melebar kemana-mana.

Orang yang bodoh akan terus mengeluarkan argumen-argumen yang berputar-putar tak tentu arahnya untuk sekedar ingin membuktikan bahwa mereka pintar. Semakin mereka berargumen sebenarnya kebodohan itu tampak nyata.

Bias kognitif yang ada pada orang bodoh membuat mereka tak bisa mengenal diri sendiri, lari dari kenyataan, dan tak mampu untuk melihat kemampuan diri sendiri sehingga mereka akan selalu merasa menjadi superior, memenangi debat.

3. Orang Bodoh Pasti Selalu Menyalahkan Orang Lain Untuk Menutupi Kesalahannya Sendiri

Bagi orang cerdas, sebuah kesalahan adalah modal besar untuk sebuah perubahan atau untuk memperbaiki diri. Sebuah kesalahan bisa dijadikan pijakan untuk menutup hal yang salah dikemudian hari. Seperti sebuah bug dalam sebuah sistem. Jika bug itu tidak pernah ditemukan, maka itu akan menjadi celah untuk merusak.

Dengan ditemukannya bug tersebut, sebuah sistem dapat diperbaiki dengan cepat. Itulah gunanya sebuah kesalahan bagi orang cerdas. Mereka tetap akan mengakui sebuah kesalahan dan bertanggungjawab atas kesalahan tersebut.

Bagi orang bodoh, sebuah kesalahan adalah milik orang lain. Mereka tak akan pernah merasa salah dan mau mengakui kesalahan. Mereka akan terus melemparkan kesalahan dan tanggungjawab kepada orang lain. Bagi dia, kesempurnaan adalah milik dia. Orang lain boleh salah, mereka tetap harus benar.

4. Orang Bodoh Pasti Selalu Merasa Dirinya Superior Dibanding yang Lain

Dalam sebuah perdebatan atau konflik, orang cerdas punya batasan kapan harus bicara kapan harus diam. Mereka tak harus meladeni setiap komentar yang dianggapnya bisa membuat mereka hilang kesabaran atau mengeluarkan amarah.

Dari setiap komentarnya selalu terselip motivasi atau menggugah kesadaran orang lain akan sebuah hal yang patut diperhatikan. Bahkan kepada lawan debatnya sekalipun, mereka akan mengingatkan agar berhenti menyerang karena semuanya akan sia-sia.

Berbeda dengan orang cerdas, orang bodoh akan terus menciptakan konflik dan provokasi. Mereka akan berkonflik dengan siapapun juga meskipun orang lain hanya berkomentar biasa-biasa saja. Bahkan yang tak ikut konflikpun akan diseret oleh orang bodoh untuk sekedar menunjukan bahwa mereka superior.

5. Orang Bodoh Tak Pernah Peduli Dengan Perasaan Orang Lain

Dalam sebuah perdebatan atau sebuah konflik, orang bodoh tak mau peduli dengan perasaan orang lain. Mereka tak bisa membaca sebuah kalimat dengan bijaksana. Mereka tak bisa menyelami sebuah kalimat dari lawan debatnya.

Ketika lawan debatnya sedikit cerita soal kesehariannya atau apa yang tengah dialaminya di RL, bagi mereka adalah curhat, dan mereka justru menghina sepuasnya. Padahal lawan debatnya hanya tengah memberi penjelasan padanya sesuai alur debat. Tetapi ketika mereka yang berbicara seperti itu, orang bodoh tak mau hal itu dianggap curhat. Mereka akan marah besar dan menggila. Semakin mereka menggila, semakin hilang kontrol alur pembicaraannya dan mereka makin tidak peduli dengan perasaan lawan debatnya.

Berbeda dengan orang bodoh, orang cerdas tahu apa yang harus dibicarakan. Jikapun mereka menyindir lawan debatnya, semua terukur. Mereka akan tetap meladeni sebatas hiburan semata. Jikapun pada akhirnya muncul makian, makian itu tak akan berlanjut.

Kurang lebih begitulah perbedaan antara orang cerdas dan orang bodoh, menurut kalian apakah ada perbedaan lain?

Shinta Zevanya