Pindah Kerja Malah Gaji Turun, Gimana Tuh?

Rating Dong

“Sebel! Sudah interview berseri, detailnya minta ampun. Sudah kasih slip gaji dan ekspektasi. Eh, ditawar gaji turun. Nyamain aja enggak! Gak etis banget“ curhat kandidat. Seketika kusarankan walk-away. Tinggalkan & move on. Buat apa piara sakit hati? “ Tempat berkarir tak selebar daun kelor!” lanjutku mengompori.

Gaji Turun Zingga Nusantara

“Tapi kan lokasinya dekat rumah! Saving timenya keren. Waktu tempuh pulang pergi dari 4 jam ke 1.5 jam. Quality time to meet my kids,” sambungnya menolak walk away. Ah, kebaca!

GAJI TURUN, TUNJANGAN NAIK

Membahas manajemen-imbalan [reward] acap over simplifikasi. Topiknya tangible-reward melulu. UUD, Ujung2nya Duit. Waktu interview, cerita distance burden, dan burden2 lainnya yang dialami. Aha! Recruiter jago akan lakukan valuasi burden dan jadikan faktor kompensasi. Valuasi quality time to meet the kids : berapa harga? Coba di UUD kan saja, kalo bisa.

Argumen-argumen kuat bisa bikin gaji turun diterima lho. Ditukar intangible reward. Pilihan challenging, bikin pusing, bikin gemes. Perlu rembugan sama istri. Diskusi prioritas. Gaji turun bulanan, dikompensasi intangible-nya jauh lebih tinggi, mengapa tidak? Turun gaji bulanan 10% bisa saja setara dengan annual total remuneration naik 20%. Dan sebaliknya. Cermatlah dengan konversi dan valuasi.

Tulisan ini dibuat oleh Bapak Wisudho Harsanto, People and Organization Transformation Practitioner

Ranika Bagun

Ranika Bagun

Reporter at InaKoran.com
Ranika Bagun adalah senior reporter di InaKoran.com dan saat ini masih menjadi aktifis di salah satu organisasi jurnalis di Indonesia.Rani juga merupakan lulusan Deakin University, Australia.
Ranika Bagun

Latest posts by Ranika Bagun (see all)