Mi Kopyok Khas Semarang yang Menggelora

Mi Kopyok Khas Kota Semarang

Zingga Nusantara – Mi Kopyok khas Semarang merupakan salah satu makanan yang sudah populer di kalangan masyarakat setempat dan bahkan sampai Jakarta. Salah satu mi kopyok yang sudah menjadi ikon kuliner Semarang adalah Mi Kopyok Pak Dhuwur.

Warung Mi Kopyok Pak Dhuwur buka mulai pukul 08.00 – 16.00. Lokasinya berada di Jalan Tanjung, tepatnya berada di belakang Gedung PLN Jalan Pemuda.

Satu porsi mi kopyok dibanderol Rp 12.000. Tersedia juga porsi jumbo yang dijual seharga Rp 15.000. Mi kopyok sepintas mirip dengan mi kocok khas Bandung. Perbedaannya terletak di isiannya.

Jika mi kocok bandung menggunakan tambahan kikil, Mi Kopyok Pak Dhuwur tidak menggunakan unsur daging sama sekali.

Mi kopyok berisikan mi, potongan lontong, irisan tahu pong, tauge, irisan daun seledri, taburan bawang goreng dan kerupuk gendar atau karak yang sudah remah. Kemudian disiram dengan kuah kaldu rempah.

Nama mi kopyok sudah ada sejak sebelum ayahnya berjualan. Dinamakan kopyok karena dalam prosesnya mi dimasak dengan cara dikopyok-kopyok atau dicelupkan secara berulang ke air yang mendidih.

Saat dikopyok, mi sudah dalam keadaan matang. Sebelum dikopyok mi akan terasa kenyal, oleh karena itu tujuan dikopyok adalah untuk membuat mi menjadi lebih lembek. Karena disajikan dengan lontong, mi kopyok juga dikenal dengan sebutan mi lontong.

Mi yang ia gunakan adalah mi produksi sendiri. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas dari Mi Kopyok Pak Dhuwur yang sudah bertahan puluhan tahun.

Selain itu dari isian seperti tahu dan kerupuk gendar, dirinya juga mempunyai penyedianya sendiri.

Kerupuk gendar dibuat oleh salah satu karyawannya dan tahu dibeli khusus dari salah seorang pengrajin tahu.

Kuah kaldu rempah pada mi kopyok membuat mi ini terasa gurih di lidah begitu disantap, dengan tambahan kecap dan sambal membuat mi kopyok menjadi lebih terasa mantap.

Ali menambahkan, ayahnya yang bernama Harso Dinomo, mulai berjualan mi kopyok secara keliling sejak tahun 1970.

Di tahun 1980-an, ayahnya kemudian memutuskan berjualan menetap di Jalan Tanjung.

Untuk membedakan dengan pedagang mi kopyok lain, para pelanggan menamai mi kopyok buatan ayahnya dengan nama Mi Kopyok Pak Dhuwur, yang berarti tinggi.

Nama itu akhirnya terus dipertahankan sampai saat ini. Dalam sehari ia bisa menghabiskan sampai 25 kilogram mi, jika akhir pekan jumlahnya meningkat sampai 40 kg mi.

Nama Mi Kopyok Pak Dhuwur sendiri sudah sangat terkenal di Semarang. Tidak mengherankan bila tokoh-tokoh terkenal kerap datang menjajal kelezatan mi kopyok ini.

Diungkapkan oleh Ali, salah satu tokoh yang kerap memesan Mi Kopyok Pak Dhuwur adalah mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso yang merupakan tokoh asal Semarang.

Selain itu mulai dari Gubernur hingga Wali Kota Semarang juga seringkali memboyong Mi Kopyok Pak Dhuwur dalam suatu acara atau syukuran.

Hingga saat ini, Warung Mi Kopyok Pak Dhuwur sudah memiliki dua cabang lain di Kota Semarang.

Selain yang merupakan warung pertama di Jalan Tanjung, terdapat juga di Jalan Kyai Saleh dan Banyumanik.

Tidak hanya Semarang, Mi Kopyok Pak Dhuwur juga sudah merambah Ibu Kota.

Di Jakarta, Mie Kopyok Pak Dhuwur memiliki dua cabang yakni di depan kantor Wali Kota Jakarta Timur dan di Kawasan Pulau Gebang. Semua cabang dikelola oleh keluarga Pak Dhuwur sendiri.

(zna)