Fransisca Paisal Berhutang banyak sekali Tapi Masih Keliling Dunia

Adis teman dari Fransisca Paisal alias Sisspai
Adis teman dari Fransisca Paisal alias Sisspai

Zingga Nusantara – Pernah mendengar atau mengalami pembohongan atau juga penipuan? Tentu pengalaman ini sangat tidak menyenangkan ya. Selain uang hasil kerja keras kita hilang begitu saja, ulah penipu yang ‘bersenang-senang’ menggunakan hasil jerih payah kita pun membuat rasa jengkel semakin membuncah. Mungkin ini yang dirasakan Mita M. Supardi, seorang travel blogger yang baru-baru ini mengalami kasus pembohongan atau juga penipuan. Mita mengaku merasa dibohongi atau ditipu oleh seorang wanita yang ia kenal bernama Fransisca Paisal dalam perjalanannya ke Korea Selatan.

Baca Juga : Lucunya Sisspai yang Berhutang Demi Gaya Hidup Mewah

Wanita berinisial Sispai-Sebutan dari Fransisca Paisal ini dituding sudah banyak sekali melakukan pembohongan atau juga penipuan dengan beragam modus.

“Dia (Fransisca Paisal atau dipanggil Sisspai) membawa-bawa nama seorang blog seorang wanita traveler-sebutan bagi orang yang suka melakukan perjalanan dan berpindah-pindah tempat- terkenal yang Saya juga kenal lah. Saya tidak curiga apa-apa saat kami traveling bareng. Salah Saya mudah percaya dan tidak tegaan saat dia minjem uang,” tutur Mita.
Mita menyebutkan, Sispai-Sebutan dari Fransisca Paisal meminjam uang dalam jumlah kecil namun dalam jangka waktu yang terbilang sering.

“Alasannya titip transfer untuk pembantu, jadi kita transfer ke nomor rekening pakai uang kita dulu, janjinya akan diganti. Jumlahnya kadang Rp. 500 ribu, Rp. 1 juta, sampai akhirnya Saya sadar, ini sudah tidak benar,” ujar Mita.

Mita dan seorang teman bernama Adis yang sama-sama merasa dibohongi atau ditipu ini akhirnya mempublikasikan kasus ini ke sosial media seperti twitter, facebook, dan juga instagram. Hasilnya, beberapa korban yang merasa pernah tertipu oleh Sispai-Sebutan dari Fransisca Paisal akhirnya buka suara. Beberapa merasa pernah dibohongi atau ditipu lewat modus penjualan ponsel, jual beli tiket pesawat dan travel.

Mereka kemudian membuat grup WA atau WhatsApp dan mengumpulkan banyak sekali bukti yang merujuk pada pembohongan atau juga penipuan yang dilakukan oleh Fransisca Paisal atau dipanggil Sisspai.

“Sekarang ada sekitar 12 orang di grup. Kita lagi mengumpulkan bukti untuk kita laporkan ke polisi. Biar dia jera dan juga kapok dan tidak ada lagi yang mengalami pembohongan atau juga penipuan,” ujar Mita.

Yang membuat Mita kesal, pelaku pembohongan atau juga penipuan selalu bergaya bak sosialita dan seorang wanita traveler-sebutan bagi orang yang suka melakukan perjalanan dan berpindah-pindah tempat- kaya raya. Mita mengatakan, si pelaku bahkan baru saja pulang dari Bangkok usai menonton konser Coldplay.

“Dia mengaku jurnalis TV, bilangnya lagi liputan ke Bangkok, tapi Saya sudah tidak percaya,” ujar Coorporate Secretary ini.

Kejadian tipu menipu ini juga pernah dialami oleh Arvina. Meski kasusnya sedikit berbeda, namun penipu punya kesamaan, yaitu menggelapkan uang untuk bersenang-senang.

Si pelaku pada awalnya mengelak sudah menggelapkan uang. Ia berdalih sudah dibohongi atau ditipu oleh percetakan kartu sehingga ia tidak bisa mengembalikan uang yang terkumpul di rekeningnya.

“Kejadiannya memang dua tahun lalu, tapi Saya masih sakit hati kalau ingat. Dua orang membawa kabur total Rp.37 juta uang pesanan kartu membership. Kita di sini kebingungan, dia malah jalan-jalan ke Singapura dan Korea,” tutur Arvina.

Gaya hidup yang tinggi namun tidak dibarengi dengan penghasilan yang memadai bisa jadi salah satu alasan terbentuknya perilaku tipu menipu.
“pembohongan atau juga penipuan bisa jadi didasari oleh gaya hidup yang tinggi, ingin dianggap sebagai orang kaya, namun malah besar pasak daripada tiang. Jadi mereka nekat melakukan berbagai cara untuk mencapai hal tersebut,” ujar psikolog Dr. Endang Widyorini.

Tak heran jika akhirnya para penipu ini biasanya menutupi kebohongan dengan kebohongan lain agar tujuan mereka tercapai.

“Berbohong atau menipu untuk mendapat keuntungan pribadi bisa punya alasan yang bermacam-macam. Mereka yang sering melakukan pembohongan atau juga penipuan atau berbohong, atau tipu dahsyat, bisa kita sebut sebagai pathological liar. Ada kebohongan terus menerus. Menutupi kebohongan dengan kebohongan lain,” kata Bona Sardo Hasoloan Hutahaean, S.Psi., M.Psi staf pengajar Psikologis Klinis UI.

Jika kebohongan dan tipu daya ini dibarengi dengan perilaku menyimpang, tidak sinkronnya perilaku sehari-hari dan berhalusinasi, maka bisa jadi pembohongan atau juga penipuan ini termasuk pada gangguan kepribadian.