Anggapan “Follow Your Passion” yang Ternyata Salah

Rating Dong

Renjana adalah bahasa Indonesia dari passion. Passion itu sendiri sering diartikan sebagai “hasrat”, padahal menurut saya “hasrat” itu lebih cocok dikaitkan dengan kata “desire” atau bahkan “obsession“. Maka dari itu saya terus memperkenalkan kata “renjana” sebagai arti Bahasa Indonesia dari passion karena sederhana saja… saya malas memiringkan (Italic) terlalu banyak kata “passion” di bahasan ini.

Follow Your Passion
Illustrasi Gambar

Lagian gini aja sih… kalo ada kosakata baru di Bahasa Indonesia yang saya lihat dan saya rasakan bisa memadukan dirinya dengan nyaman di kalimat-kalimat umum yang saya gunakan, ya akan saya promosikan terus kepada pembaca. Sekiranya kosakata terjemahan itu kurang nyaman saya gunakan di kalimat sehari-hari, tidak akan saya gunakan. Lebih baik saya tetap gunakan kata tersebut dalam bahasa asing.

Selain itu kata “hasrat” juga seringkali dikaitkan dengan kalimat yang bersifat aktif; malah terkadang menjurus ke nuansa negatif. Misalnya: hasrat untuk membunuhnya, hasrat untuk memiliki cintanya, dan lain sebagainya. Pendek kata, pengertian “hasrat” saya pikir “kurang bersifat luhur”, melainkan lebih tepat digunakan dalam keseharian saja.

Dalam pengertian yang lebih sederhana, masih banyak orang yang mengartikan “passion” sebagai hobi atau kesenangan seseorang ketika melakukan suatu hal. Ini tidak salah, namun tidak sepanjang waktu benar juga, karena tergantung dari konteks pembicaraannya. Nah, kesalahkaprahan banyak orang dalam mengartikan kata “passion” ini, menurut saya, turut berkontribusi atas kurang tepatnya pemaknaan kata tersebut.

Oke… jadi kita sepakat ya menggunakan kosakata “renjana” sebagai Bahasa Indonesia dari “passion”. Dalam penulisan berikutnya saya akan gunakan kata tersebut.

Alkisah, sejumlah orang sukses di luar sana pernah berkata “follow your passion“, atau ikutilah renjana kita, jika kita ingin sukses dan bahagia dalam hidup ini. Kesan “indah” dari adagium ini pada akhirnya membuat banyak orang terlena dan terperosok dalam kesalahan anggapan yang fatal bahwa jika sebuah pekerjaan bukan termasuk dalam renjana kita, maka kita tidak wajib melakukannya dengan segenap kesungguhan hati.

Sebagai contohnya begini. Misalnya saya punya renjana di bidang otomotif. Sedari kecil saya suka sekali mengutak-atik mesin mobil. Sedari remaja saya bercita-cita ingin bekerja di perusahaan otomotif, atau ingin membuka bengkel sendiri.

Suatu saat di masa depan ketika bersekolah, saya tidak berprestasi di bidang Matematika, sehingga saya tidak berhasil masuk IPA, dan oleh karenanya saya tidak berhasil masuk kuliah jurusan Teknik Mesin.

Karena realitas hidup yang tidak sesuai dengan renjana saya sedari kecil di bidang otomotif, maka saya ogah-ogahan mengerjakan segala sesuatu pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan otomotif. Pokoknya harus otomotif. Jika bukan otomotif, bukan pekerjaan yang bagus buat saya. Karena saya mengikuti renjana saya, seperti apa yang dikatakan para orang sukses tersebut.

Misalnya saya mendapatkan pekerjaan di bidang Teknologi Informasi. Saya bisa menjalaninya, namun saya sulit menjalankannya dengan sepenuh hati dan dengan segenap ketekunan. Karena dalam benak saya, dunia TI bukanlah renjana saya. Renjana saya sedari dulu adalah otomotif.

Disinilah kesalahan terbesar orang-orang yang menafsirkan kata-kata orang sukses tersebut secara salah kaprah. Sehingga ada anggapan bahwa kita harus menunggu bertemu jodoh pekerjaan yang tepat dengan renjana kita, barulah kita bisa menjalaninya dengan sepenuh hati.

Masalahnya begini. Jika kita beruntung dilahirkan di keluarga yang kaya dan bisa memberikan kita modal untuk langsung buka bengkel sendiri tanpa harus bekerja dulu sebagai karyawan di perusahaan lain, tentunya hidup tidak perlu menjadi serumit itu perihal renjana. Kita punya renjana di bidang otomotif, tinggal minta modal ke orang tua kita, langsung dirikan dan buka saja bengkel otomotif. Selesai.

BACA ARTIKEL TENTANG MOTIVASI DARI DUNIA KERJA DISINI

Ketika hidup kita seberuntung itu dilahirkan di keluarga kaya, kita boleh-boleh saja menafsirkan kata-kata orang sukses tersebut sebagai “menjalani hanya apa yang merupakan renjana kita”.

Namun mayoritas orang tidaklah seberuntung itu. Mayoritas orang dilahirkan dari keluarga yang secara ekonomi biasa-biasa saja; bahkan mungkin berkekurangan. Sehingga selepas selesai sekolah entah itu SMA atau universitas, kita harus bekerja terlebih dahulu di perusahaan milik orang lain, sebagai karyawan.

Jika demikian kondisinya, mayoritas kasus adalah kita harus bekerja di bidang yang bukan merupakan renjana, hobi atau kesenangan kita. Semuanya harus kita lakukan demi bertahan hidup. Atau bagi yang sudah menikah, harus tetap bertahan dengan kondisi pekerjaan tersebut demi kelangsungan hidup pasangan dan anak-anaknya.

Ketika hidup kita tidaklah seberuntung orang-orang kaya di luar sana, jangan salahtafsirkan kata-kata “follow your passion” tersebut. Karena kesalahan tafsir akan kata-kata mantra tersebut, bisa menjebloskan kita ke jurang kehidupan yang cukup fatal. Lebih buruknya lagi, kita bisa saja melibatkan pasangan dan anak-anak kita dalam kejatuhan ke dasar jurang kehidupan tersebut.

Di dalam hidup ini, kita bisa saja memiliki lebih dari satu atau bahkan lebih dari dua keahlian khusus, renjana, atau hobi. Lebih dari satu atau dua, dan kesemuanya dapat kita lakukan dengan sama baiknya. Pertanyaannya: misalnya kita dapat menguasai tiga keahlian khusus atau hobi dengan sama baiknya, lantas apakah ketiga renjana tersebut kita temukan secara serentak dan dapat kita kuasai secara serentak juga?

Jawabannya adalah: TIDAK.

Manusia memiliki sejumlah keterbatasan, yaitu keterbatasan ruang, waktu, tenaga, emosional dan intelijensi. Sehingga betapapun memang benar bahwa kita bisa menguasai lebih dari satu renjana, keahlian khusus atau hobi; namun setiap yang kita kuasai tersebut membutuhkan sejumlah waktu, fokus, tenaga dan kapasitas emosional kita dalam mempelajari dan menguasainya.

Sehingga dengan demikian, apapun dan berapa banyaknya pun keahlian khusus, renjana atau hobi yang kita miliki; mustahil kesemuanya dapat kita kuasai sekaligus dalam satu waktu. Penguasaan tersebut bersifat sekuensial, satu demi satu, tahap demi tahap. Menguasai satu subjek dengan baik, barulah kita bisa berpindah ke subjek lain untuk menguasainya. Demikian seterusnya.

Ada yang dapat kita kuasai dalam waktu singkat, ada yang membutuhkan waktu lama karena tingkat kerumitan dan keharusan kita melakukannya secara nyata dalam bentuk pengalaman atau interaksi dengan orang lain. Inilah yang sesungguhnya tidak mudah.

Ini jika kita membicarakan mengenai renjana, hobi, kesenangan atau keahlian khusus. Sementara mayoritas orang di luar sana masih harus bekerja di alam nyata, demi bertahan hidup dan menafkahi keluarga; tanpa satupun renjana atau hobinya yang terlibat dalam pekerjaannya.

Lalu jika demikian, apakah kita punya alasan yang bagus untuk bekerja dengan tidak sungguh-sungguh, hanya karena apa yang kita kerjakan tidak sesuai dengan renjana, hobi atau keahlian khusus yang telah kita miliki? TIDAK. JANGAN.

Kesungguhan dan ketekunan untuk menjalani apapun yang datang, terjadi dan melingkupi hidup kita, terlepas dari apakah kita menyukainya atau tidak menyukainya; sesungguhnya merupakan renjana juga. Bahkan itulah definisi yang paling hakiki tentang “renjana” yang sedari tadi panjang-lebar kita bicarakan.

Marilah kita lihat orang-orang yang saat ini bisa mendapatkan penghasilan yang baik, dengan mengerjakan hal-hal atau pekerjaan yang mereka sukai. Apakah itu langsung terjadi dalam hidup mereka? TIDAK… kecuali mereka adalah anak orang kaya, yang di beberapa paragraf diatas telah saya jabarkan kondisinya.

Sehingga dengan demikian, kehidupan sering memaksa kita untuk menerima penghasilan yang (menurut kita) tidak sesuai dengan harapan, demi mengerjakan sesuatu pekerjaan yang tidak kita sukai, atau diluar renjana, hobi dan keahlian khusus yang kita miliki.

Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Terimalah realitas tersebut dengan ikhlas dan rasa syukur, dan jalanilah realitas tersebut dengan sepenuh kesadaran bahwa realitas tersebut adalah satu kondisi yang harus kita jalani demi tercapainya kondisi lain yang lebih sesuai dengan harapan kita di masa depan.

Seringkali kejadiannya adalah… karena kita tidak bersungguh-sungguh dan tidak bertekun dalam apa yang tidak kita sukai di saat ini; kehidupan, alam dan Tuhan menjadi “batal” menghadiahkan hal-hal atau pekerjaan yang kita sukai dengan penghasilan yang baik di masa depan.

Mengapa demikian?

Karena dalam kehidupan ini, di dalam misteri kehidupan, nasib dan takdir ini; ada sebentuk “norma” yang sering disebut sebagai norma kepantasan, norma kelayakan atau norma kepatutan.

Norma ini mengatakan bahwa kehidupan, alam dan Tuhan baru akan memberikan apa yang selama ini menjadi doa dan keinginan kita, jika kita memang dipandang layak dan patut menerimanya, setelah memperjuangkannya dengan segenap hati dan segenap jiwa.

Mengenai kebenaran dari apa yang terkandung dalam norma ini, bukanlah hal itu yang menjadi fokus dari tulisan ini. Fokus artikel ini adalah bahwa tidak ada salahnya untuk menjadi seseorang yang selalu memperjuangkan segala sesuatunya dengan segenap hati, segenap pikiran dan segenap jiwa kita; terlepas dari apakah kita menyukai atau tidak menyukai hal / pekerjaan tersebut.

Inilah yang seringkali menjadi hambatan mental orang-orang yang terjebak dalam kesalahkaprahan adagium “follow your passion“.

Seseorang yang saat ini dibayar dengan baik untuk mengerjakan hal-hal yang ia sukai, biasanya terlebih dahulu di masa lalunya, telah banyak mengerjakan hal-hal yang tidak ia sukai, betapapun dibayar dengan tidak terlalu baik; dengan tetap bersungguh-sungguh, dengan tetap bertekun, dan dengan segenap hati, jiwa dan pikirannya.

Jalani dulu apa yang tidak kita sukai hari ini, dengan penuh keikhlasan, syukur dan tanggungjawab. Kita coba yang terbaik dulu dari dalam diri kita. Semua. Total.

Jika memang dalam suatu kurun waktu tertentu lantas kita tidak kunjung bisa menemukan satupun hal positif dari apa yang kita kerjakan tersebut, pasanglah batas waktu. Di batas waktu tersebut, temukanlah kesempatan atau peluang lainnya. Begitu seterusnya.

Ketika kita sudah “mahir” melakukan manajemen diri kita didalam apa yang tidak kita sukai, maka kelak dengan mudahnya kita sudah pasti bisa menjalankan manajemen atas apapun yang kita sukai atau yang telah kita kuasai dengan baik. Setelah itu, pendapatan yang baik & layak akan datang dengan sendirinya.

Dengan pendapatan yang baik, kehidupan yang stabil dan masa depan yang telah kita persiapkan; kita bisa mengejar renjana, hobi dan keahlian apapun yang ingin kita kuasai sedari dulu, dengan sebebas-bebasnya, kapanpun dan dimanapun.

Inilah logika norma kepantasan, norma kelayakan dan norma kepatutan.

Sebagai manusia normal, tentu saja manusiawi jika kita selalu menginginkan hal-hal yang mudah dan mulus agar terjadi dalam perjalanan hidup kita. Namun kenyataannya selalu berbanding terbalik kan?

Sehingga yang terpenting adalah kita jangan sampai “ikut-ikutan menjadi terbalik”… Kita harus terus sadar, waspada dan fokus akan gambaran besar tujuan luhur kita berada di dunia ini: untuk menciptakan dan memberikan perbedaan bagi kehidupan orang lain.

Untuk itu, butuh latihan. Butuh penempaan. Butuh dihajar kiri-kanan-depan-belakang-atas-bawah dahulu. Karena sesungguhnya untuk menjadi perbedaan besar dalam hidup orang lain, apalagi hidup orang banyak; tidak pernah mudah. Tidak mudah sama sekali.

Namun apapun yang tidak mudah, sesungguhnya adalah yang paling layak untuk terus kita coba jalani, tekuni dan kuasai. Selalu pilihlah dan jalanilah hal-hal sulit, maka kehidupan ini akan memudahkan banyak hal dalam perjalanan hidup kita.

Keraslah terhadap diri sendiri, maka kehidupan ini akan melunak terhadap kita. Lunak & lembek terhadap diri sendiri, maka kehidupan ini akan menjadi keras terhadap kita.

Tulisan ini dibuat oleh Peter Febian, pakar dan praktisi bidang human resourcing.